advertisement

HUAWEI BANTU INDONESIA

Tuesday, February 9th, 2021 - TRENDING
advertisement

Raksasa teknologi China, Huawei, telah menegaskan dukungannya terhadap transformasi digital Indonesia, baik dari mendirikan akademi untuk talenta digital atau meningkatkan keterampilan keamanan siber pemerintah. Perusahaan telah resmi membuka Huawei Asean Academy Engineering Institute di Jakarta. Huawei mengklaim akademi tersebut adalah pusat pelatihan dan sertifikasi TIK terbesar dan terlengkap di Asia Pasifik. Menurut ketua Huawei Indonesia Jacky Chen, pendiriannya akan membantu Indonesia mengatasi kesenjangan talenta digital dan mendorong negara tersebut untuk memasuki lima ekonomi teratas dunia pada tahun 2045.

Kami berkomitmen untuk terus memperkuat komitmen tersebut melalui Huawei ASEAN Academy di Indonesia. Target kami adalah mengembangkan kompetensi 100 ribu talenta digital di Indonesia dalam lima tahun ke depan melalui model sinergi multiple helix dengan berbagai pihak, Jacky, yang juga menjabat sebagai presiden akademi, mengatakan dalam pernyataan resmi, Senin. Akademi ini terdiri dari akademi bisnis, teknis, dan teknik dengan 100 pelatih, lebih dari 3.000 kursus, dan lebih dari 100 lingkungan mirroring. Selain menghadiri kelas teori, siswa dapat mengambil pekerjaan praktis di tempat, sertifikasi, dan ujian.

“Itu juga mengadopsi desain lapangan pelatihan modular dan dapat digunakan kembali, mendukung pelatihan untuk 80 orang pada saat yang sama. Diperkirakan 1.500 hingga 2.000 program pelatihan dan sertifikasi bakat TIK dapat diselesaikan setiap tahun,” kata dekan akademi Yangdonghai.

Selain membina talenta digital, Huawei juga bersemangat dalam memperkuat sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) terhadap potensi ancaman siber. Huawei baru-baru ini bekerja sama dengan Badan Siber dan Enkripsi Nasional (BSSN) untuk mengadakan lokakarya tentang sistem keamanan siber BSSN, Honeynet, dan perannya dalam SPBE.

Adopsi digital secara nasional telah membuka pintu bagi serangan dunia maya.Honeynet milik BSSN mencatat total 246.432.010 serangan siber dan 190.599 serangan malware pada tahun 2020. Serangan ini tersebar di 71 titik yang terdiri dari pemerintah, infrastruktur informasi nasional kritis, dan sektor akademik. Angka yang mengkhawatirkan ini menyerukan perlunya meningkatkan keterampilan keamanan siber di dalam pemerintahan.

“Faktor keamanan informasi merupakan salah satu fokus penting dalam menjalankan program SPBE. Standar keamanan untuk SPBE terdiri dari aplikasi, pusat data nasional, data dan informasi, sistem sambungan layanan, dan keamanan jaringan, ”kata Deputi Identifikasi dan Deteksi BSSN, Dono Indarto.

advertisement
HUAWEI BANTU INDONESIA | admin | 4.5